Wednesday, 23 March 2011

Penyebab hati menjadi goyah adalah keadaan,tempat dan pola pikir. Andaikan pola pikirnya baik maka keadaan dan tempat bisa dengan mudah untuk dikendalikan. Pola pikir yang baik adalah cita-cita, berfikir, merenung, berencana, memperhitungkan.
By me

Download
Tausyiah Maulid Nabi SAW Oleh KH. Syarif Rahmat RA.SQ.MA

Kisah Malaikat Bernama Harut dan Marut

Harut dan Marut adalah 2 orang Malaikat yang di sebut dalam Al-Qur.an surat Al Baqarah ayat 102 :

Dan mereka mengikuti apa [76] yang dibaca oleh syaitan-
syaitan [77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).

Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat [78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut
Dari ayat Al_Qur'an itu muncul beberapa penafsiran tentang Harut dan Marut adalah 2 orang Malaikat yang turun ke Bumi.

DIRIWAYATKAN daripada Nafi’ dari Abdullah Umar, bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda “Ketika Nabi Adam a.s diturunkan Allah ke bumi, maka berkatalah malaikat, “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui.”

Malaikat berkata, “Kami adalah orang lebih patuh kepada Engkau berbanding anak keturunan Adam.”

Kepada malaikat, Allah berfirman: “Panggillah ke mari dua malaikat. Aku akan turunkan mereka ke bumi hingga kamu dapat melihat apa yang dilakukan kedua-dua malaikat itu!”

Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas, bahawa Allah berfirman kepada malaikat, “Pilihlah tiga yang termulia antara kamu!”

Malaikat menjawab, “Tuhanku, biarlah Harut dan Marut saja yang melakukannya!”

Harut dan Marut pun diturunkan ke bumi dan dengan diberi sifat-sifat yang sama seperti yang melekat sama manusia ( Nafsu syahwat dll ), lalu Allah mencipta seorang wanita daripada bunga (Zahrah) yang amat cantik. Zahrah pun mendatangi kedua-dua malaikat itu untuk menggodanya.

Kedua-dua malaikat itu tertarik dengan kecantikan Zahrah hingga timbullah keinginan terhadapnya.

Zahrah berkata, “Tidak, demi Allah, jika kamu mau mengucapkan kalimah musyrik ini!”

Kedua-dua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah, sedikit pun kami tidak mau mempersekutukan Allah untuk selama-lamanya!”

Zahrah meninggalkan mereka berdua. Beberapa saat kemudian, dia kembali lagi membawa anak kecil.

Apabila mendekati kedua-dua malaikat itu Zahrah berkata, “Tidak demi Allah, sebelum kamu bersedia membunuh anak kecil ini!”

Kedua-dua malaikat itu menjawab, “Tidak, demi Allah selamanya aku tidak akan membunuhnya!”

Zahrah meninggalkan mereka dan datang semula sambil membawa segelas arak. Setelah menyapa malaikat, Zahrah berkata,

“Tidak, demi Allah, sebelum kamu berdua minum arak ini!”

Akhirnya kedua-dua malaikat itu meminumnya hingga mabuk dan kemudian mereka berzina dengan Zahrah sebelum membunuh anak kecil itu.

Ketika kedua malaikat itu sadar, Zahrah berkata, “Demi Allah, ketika kamu dalam keadaan mabuk tadi, kamu sudah melakukan semua yang sudah kamu tolak sebelum ini.”

Akhirnya Harut-Marut diperintah untuk memilih antara siksa didunia atau di akhirat. Kedua-duanya memilih siksaan di dunia.

Diriwayatkan Makhul daripada Mu’adz, ketika kedua-dua malaikat itu sadar, maka datanglah dari sisi Allah malaikat Jibril kepada mereka.

Pada saat Jibril datang, kedua-duanya menangis dan Jibril ikut menangis sambil berkata, “Cobaan apakah yang membuat kamu hanyut seperti ini?”

Mendengar ucapan Jibril itu, tangisan kedua-duanya menjadi semakin kuat. Jibril berkata, “Sesungguhnya Tuhan kamu sudah memerintahkan kepada kamu untuk memilih antara azab di dunia atau azab di akhirat.”

Maka mereka tahu bahwa dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi dan sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua hamba-Nya. Kedua-dua malaikat itu akhirnya memilih hukuman di dunia dan menyerahkan nasibnya kepada kehendak Allah.

Riwayat lain : Rabi’ Anas berkata, ketika Harut dan Marut sadar daripada mabuk, mereka akhirnya menyadari kesalahan yang sudah dilakukan ketika mabuk. Mereka menyesal.

Mereka ingin naik kembali ke langit, tetapi mereka sama sekali tidak mampu melakukannya, malah tidak mendapat izin. Mereka menangis dan meratapi nasib mereka.

Kedua-dua malaikat itu lalu mendatangi Nabi Idris sambil berkata, “Aku mohon supaya engkau mendoakan aku kepada Allah kerana sesungguhnya di langit aku sudah mendengar bahawa engkau disebut-sebut sebagai orang yang soleh.”

Nabi Idris mendoakan kedua-dua malaikat itu dan doanya dikabulkan hingga akhirnya mereka diperintahkan memilih antara azab di dunia atau akhirat.

Perawi hadis itu berkata, “Harut dan Marut pada saat itu berada di wilayah Badil, Parsi. Mereka digantung di antara dua gunung pada sebuah gua bawah tanah. Setiap hari mereka disiksa hingga pagi.”

Ketika berita hukuman itu diketahui malaikat yang lain, mereka mengepak-ngepakkan sayap sambil berdoa di Baitullah:

“Ya Allah, ampunilah anak cucu Adam kerana kami kagum bagaimana mereka dapat menyembah dan taat kepada Allah, padahal mereka dikelilingi beberapa kesenangan dan kelazatan.”

Al-Kalabi berkata, “Seterusnya malaikat pun sentiasa memohon ampun kepada anak cucu Adam. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohon ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.”


Written by Keluarga Sakinah

KISAH HARUT & MARUT

Diriwayatkan oleh Abi Hatim dari Assham Bin Rawwad, dari Adam, dari Abi Ja'far, dari Qais Ubaid, dari Ibnu Abbas r.a. berkata Ibnu Abbas:

"Semakin lama makin banyak juga manusia anak cucu Adam di permukaan bumi ini. Dan semakin banyak pula kerusakan dan maksiat yg mereka lakukan. Diantaranya mereka kafir terhadap Allah . Melihat kejadian itu para Malaikat dilangit lalu berkata kepada Allah :
Ya Tuhanku, alam yg Engkau ciptakan untuk tempat berbakti dan beribadat terhadap Engkau, sudah dijadikan oleh manusia menjadi tempat maksiat (mengingkari) ajaranEngkau, mereka saling membunuh, berzina, berjudi, mencuri dan minum minuman keras, serta memakan harta anak yatim dan mengkafirkan Engkau ya Tuhanku"
Kepada para Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk memilih dua Malaikat, lalu mereka memilih Malaikat Harut dan Marut, kedua malaikat itu lalu diutus untuk turun kebumi. Kepada kedua Malaikat itu, Allah membangkitkan semua hawa nafsu seperti layaknya manusia keturunan Adam dan Hawa. Kepada kedua Malaikat ini diperintahkan oleh Allah agar beribadat dan mematuhi perintah Allah, dan jangan mempersekutukan Tuhan, kepada keduanya, Allah melarang agar jangan saling membunuh, memakan makanan haram, berzina, mencuri dan minum minuman yg memabokkan. Kedua Malaikat itu lalu turun kebumi dan tinggal untuk beberapa lama, menghukum antara yang haq, yaitu dizaman Nabi Idris a.s.
Dikala itu ada seorang wanita yg kecantikannya ditengah wanita wanita sebagai venus (bintang kejora) ditengah segala bintang, kedua Malaikat itu lalu mendatangi wanita itu, mulai merayu untuk menyerahkan kehormatannya. Wanita itu menolak, kecuali keduanya itu mau menganut agama yg dianutnya. Kedua Malaikat itu lalu menanyakan agama apa yg dianut wanita itu, wanita itu lalu mengeluarkan berhala (patung) dan berkata: inilah yg aku sembah. Kedua Malaikat itu menjawab: Kami tidak ada keinginan menyembah patung itu, lalu keduanya pergi dengan sedih. Kemudian kembali keduanya mendatangi wanita itu dengan maksud yg sama, yg juga dijawab dengan jawaban seperti waktu pertama tadi. Sehingga keduanya kembali dengan hampa, dan demikian pula kali yg ketiganya.


Karena keduanya tidak mau menyembah berhala, maka wanita itu menyuruh pilih 1 diantara 3 perkara yaitu:
1. Menyembah berhala.
2. Membunuh
3. minum tuak.
Keduanya berfikir bahwa pertama dan kedua tidak pantas, yg lebih ringan dosanya adalah minum tuak. Lalu kedua Malaikat itu minum tuak, dan baru baru saja keduanya minum tuak itu, keduanya menjadi mabok, lalu melakukan hubungan intim (enak gila) dengan wanita itu. Dan karena keduanya takut bahwa wanita itu akan menceritakana pelanggaran berat kepada orang banyak, lalu kedua Malaikat itu membunuh wanita yg itu.
Setelah kedua Malaikat itu sembuh dari maboknya, dan menyadari bahwa keduanya sudah melakukan dosa dosa yg amat berat, begitu kedua Malaikat itu mau naik ke langit, tetapi sudah tidak sanggup, sebab antara langit dan bumi dipasang tutup untuk keduanya.
Melihat kejadian itu, sadarlah seluruh Malaikat yg ada dilangit, bahwa manusia yg tidak kenal alam gaib pantas tidak takut berbuat dosa, sehingga para Malaikat dapat mengerti kalo banyak manusia yg berbuat dosa.
Sejak saat itu seluruh Malaikat dilangit, disamping memuji 4JJI, mereka slalu berdoa agar 4JJI sudi kiranya mengampuni dosa dosa manusia yg beriman yg tinggal dibumi ini.
Terhadap kedua Malaikat yg dijadikan percobaan itu, oleh 4JJI disuruh pilih menjalani siksa dunia atau siksa akhirat. Lalu keduanya memilih siksa dunia, karena dunia ini tidak kekal. Sedangkan siksa akhirat adalah siksa yg kekal, begitulah kedua malaikat itu disiksa oleh 4JJI didunia, dan bebas dari siksa diakhirat kelak.
Akhirnya banyak manusia yg mendatangi kedua Malaikat itu untuk mempelajari ilmu sihir yg dapat mecerai beraikan antara suami isteri. Kedua Malaikat itu tak lupa menerangkan kepada orang banyak, bahwa ilmu sihir itu adalah sebagai (fitnah) bagi mereka, dan tidak akan berbarti apa apa kecuali degan izin 4JJI, dan pasti mendatangkan kerusakan semata. Sekalipun begitu, masih banyak saja manusia yg ingin mempelajarinya yg terang terangan tidak manfaat dan malah akan mendapatkan siksa yg amat berat diakhirat kelak.

ALLAH swt Berfirman:

"Dan mereka (yahudi) mengikuti apa yg diceritakan oleh setan setan tentang kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kufur, hanya setan setan itu yg kufur. Mereka ajarkan ilmu sihir kepada manusia, dan ilmu yg diturunkan kepada 2 Malaikat di Babil, bernama Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan melainkan berkata:
Kami tidak lain melainkan percobaan, sebab itu janganlah engkau kufur. Tetapi tetap mereka (yahudi) belajar dari kedua Malaikat itu (ilmu) buat menceraikan antara suami dan isteri, dan mereka tidak membahayakan seseorang melainkan dengan izin Allah. Tetapi mereka telah mempelajari apa yg membahayakan mereka dan tidak memberikan manfaat kepada mereka padahal mereka itu tahu, bahwasanya orang yg menggunakan sihir itu tidak mendapatkan kebahagiaan yg baik diakhirat kelak, dan alangkah busuknya suatu harga yg denganya mereka jual akan diri mereka, jika mereka mengetahui" (al-Baqarah : 102)

Ayat tersebut membantah tuduhan yahudi yg mengatakan bahwa Nabi Sulaiman lah yg pertama mengajarkan ilmu sihir, tetapi yg sebenarnya adalah setan setanlah yg mengajarkan sihir itu. Kemudian mereka sekali lagi dicobai melalui Malaikat Harut dan Marut. Tetap saja mereka mempelajari ilmu sihir kepada ke dua Malaikat itu, sekalipun kedua Malaikat itu telah memperingatkan bahwa sihir itu adalah cobaan agar mereka jangan melanggar dengan mempelajarinya, namun mereka tetap mempelajarinya.
Cerita Harut dan Marut yg diterangkan diatas dan tersebut dalam ayat diatas ini telah menimbulkan banyak perbeda'an pendapat dikalangan para ahli tafsir. Apa mungkin Malaikan yg telah diakui dalam banyak ayat dan hadits bahwa mereka suci tak bersalah, lalu mengerjakan kesalahan yg begitu berat, berzina, minum tuak, membunuh dan mengerjakan ilmu sihir?
Ada yg berpendapat bahwa tidak mungkin Malaikat mengerjakan dosa dosa berat seperti tersebut diatas ini. Sebab itu mereka, kedua Malaikat yg bernama Harut dan Marut itu yg sebenarnya bukan Malaikat, tetapi manusia biasa yg pada mulanya amat soleh/salih, sehingga dalam masyarakat ketika itu mendapat julukan seperti Malaikat (baca Tafsir al-Furqan karya Ustadz A Hasan, halaman 29.)


Surah al Baqarah:102

Alam Malaikat adalah yang alam tinggi di alam langit. Para malaikat berkumpul, mereka berbisik sesama mereka dan teringat firman Allah kepada mereka “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khlifah di muka bumi” al Baqarah:30 Lalu mereka berkata “mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, pada hal kami sentiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau” Tuhan berfirman sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui” al Baqarah:30

Allah telah mengajarkan Adam nama nama benda seluruhnya, menempatkan Adam di dalam syurga, mencipta Hawa sebagai isteri kepada Adam dan sebagai pasangannya sehingga Adam mengingkari perintah Allah dengan memakan buah dari pohon khuld dan akhirnya Adam di keluarkan dari syurga dan di campakkan ke dunia. Bermula kehidupan Adam dan Hawa di dunia. Lahir zuriat Adam di dunia dan akhir berlaku pembunuhan pertama Qabil atas Habil. Selepas itu zuriat anak Adam terus berkembang dan bertambah ramai di dunia. Akhirnya dunia penuh dengan dosa dosa keturunan Adam.

Mereka lupa tugas mereka sebagai khalifah Allah di bumi. Mereka membuat berhala lalu mereka menyembah berhala tersebut. Begitulah berlalu kehidupan manusia yang penuh kelalaian, penuh kemaksiatan, mencuri, merampas hak sesama mereka dan membunuh antara satu sama lain dan dunia diselubungi kezaliman. Kesemua ini dicatat oleh malaikat sehingga buku catatan mereka menjadi gelap hitam pekat, lalu malaikat pun berkata beginikah keadaan khalifah Allah di bumi?kenapa Allah memilih mereka menjadi khalifah sedangkan mereka mengengkariNya?

Lalu Allah berfirman kepada para malaikat “jika sekiranya Aku menjadikan kamu semua seperti manusia niscaya kamu juga akan melakukan seperti apa yang telah berlaku dikalangan manusia”

Malaikat menjawab; wahai Tuhan! Maha Suci Engkau kami sekali kali tidak akan mengingkari Kamu. Maka Allah berfirman lagi;pilihlah dua malaikat dari kalangan kamu. Lalu para malaikat memilih Harut dan Marut karena mereka berdua adalah yang paling terbaik beribadat kepada Allah dari kalangan malaikat. Firman Allah ” dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut” al Baqarah:102 .

Babil atau dikenali dengan Babylon di Iraq. Babylon ketika penuh dengan kemewahan, kesenangan dan kemaksiatan. Wanita wanita cantik dan jelita berada di mana mana saja, arak juga terdapat di merata tempat, alunan muzik dapat didengari dari semua kedai dan kelab dan perkara keji dan jahat berleluasa.
Di sana sini terdapat kelompok manusia berpesta mengelilingi wanita cantik yang sedang menyayi dan menari dalam separuh bugil. Ada sebahagian mencuri barang barang orang, kerana mereka lalai dan leka melihat wanita menyayi dan menari.

Kesemua hal keadaan ini dilihat dan didengari oleh Harut dan Marut, setelah Allah SWT menukar mereka menjadi manusia dan mencampak mereka berdua di Babil. Harut dan Marut berada di Bandar Babil, mereka berdua senantiasa memelihara kesucian dan keputihan malaikat, siapa saja akan tertarik dan tergoda dengan kerupawanan mereka berdua.

Setelah lama berjalan jalan di kota Babil mereka berdua merasa letih. Harut pun berkata; aku merasakan sesuatu di dalam dadaku, begitu juga di kepalaku seolah olah badanku berat seperti bukit sehingga kakiku tidak mampu memikulnya.
Marut menyahut kata kata Harut; aku juga merasakan seperti yang kamu rasa tetapi perutku amat terasa sakit.
Harut menjawab; itu bunyi perut yang lapar, wahai saudaraku! Sesungguhnya kita telah jadi seperti manusia, ketika kita malaikat tidak pernah merasa lapar dan dahaga bahkan kita senantiasa bertasbih dan mensucikan Allah. Lalu Harut mendonggak ke langgit berdoa kepada Allah supaya Allah memberi mereka makanan. Tiba tiba mereka mencium aroma daging bakar yang memenuhi rongga hidung mereka berdua.Mereka berdua segera pergi mencari ke arah aroma daging bakar, akhirnya mereka sampai ke majlis keramaian. Mereka dapati ramai manusia sedang berjamu selera dalam majlis tersebut.
Mereka terus masuk ke dalam majlis itu, tetapi rasa mulia yang ada dalam diri mereka berdua menjadi penghalang dari mereka meminta makanan dari tuan majlis. Bagaimana mereka menyembunyikan bunyi perut yang lapar yang terus menerus berbunyi?Lalu mereka berdua pergi duduk dekat dengan tuan majlis itu. Mereka melihat orang ramai makan dengan sayu. Orang ramai juga memperhatikan Harut dan Marut, kemudian tuan majlis merasa kasihan lalu menjemput mereka makan. Mereka makan bersama orang ramai sehingga kenyang dan perut mereka tidak lagi berbunyi.

Selesai makan, mereka pun memperhatikan semua orang ramai yang sedang makan, mereka memperhatikan seluruh tempat di dalam majlis itu. Akhirnya mata mereka berdua terpaku melihat kecantikan dan kejelitaan seorang wanita, wajahnya cantik bak bulan purnama. Itulah Zahrah ratu cantik di Babil. Harut dan Marut tersadar dari lamunan, dan rasa bersalah kerana telah melakukan dosa. Harut dan Marut pun segera beristighfar dan bertaubat dari dosa tersebut. Rasa terlalu malu atas dosa tersebut hampir hampir membunuh mereka berdua. Penyesalan jelas terpancar dari riak muka mereka.

Tetapi setelah perasaan penyesalan berlalu, syahawat datang kembali sekali lagi mereka memandang Zahrah dengan asyik sekali, sehinggalah suara iman dalam hati mereka memberontak dan berkata ini nafsu dan bujukan syaitan. Suara iman mengatasi syahawat mereka segera beristighfar kepada Allah SWT. Mereka memikirkan bagaimana hendak mengatasi masalah itu?

Akhirnya mereka dapat jalan penyelesaian.Hanya itu saja jalan penyelesaian bagi mereka yaitu bersegera meninggalkan majlis . Harut dan Marut sepakat, mereka mestilah segera meninggalkan majlis dan bertaubat kepada Allah. Lalu mereka terus melangkah keluar dari majlis, setelah agak jauh meninggalkan majlis tersebut, perasaan syahawat mereka meronta ronta untuk melihat Zahrah, mereka serentak berpaling untuk kembali kepada Zahrah, tetapi sekali bisikan iman mereka mengatasi bujukan syahawat dan mereka meneruskan perjalanan, lari jauh meninggal majlis itu.

Dalam perjalanan itu Harut dan Marut tidak bercakap terus membisu, sambil kedua-duanya bertanya tanya apakah yang telah mereka lakukan hingga sanggup mengingkari perintah Allah dengan melihat kepada perkara yang diharamkan atas mereka.

Harut pun berkata kepada Marut; nafsu manusia buruk dan keji mendorang kita melakukan maksiat kepada Allah. Alangkah keji nafsu manusia!

Marut menjawab; mungkin perasaan engkau sama seperti apa yang aku rasai sekarang! Ya aku takut tempat kembali kita adalah neraka, yang menjadi tempat balasan orang orang durhaka kepada Allah
Harut menjawab; tidak! Tidak! Jangan takut kita mesti berusaha mengalahkan syahawat dan memaksa nafsu agar mengikut bisikan iman. Kita mesti terus beristighfar dan bertaubat kepada Allah dan mesti meninggalkan tempat maksiat ini dan pergi ke tempat jauh dari manusia dan tidak ada maksiat.

Setelah senja matahari pun terbenam mereka masih meneruskan dan berhenti dengan kaki bukit, masih ada lagi cahaya kemerahan di kaki langit, beransur ansur bertukar menjadi gelap, kelipan kelipan cahaya bintang jauh di langit. Harut dan Marut khusyuk menunaikan solat dan bertasbih kepada Allah sambil memohon taubat ke atas dosa yang telah mereka lakukan
Keadaan malam terus gelap gulita, semua makhluk di dunia sedang nyenyak tidur. Manakala Harut dan Marut terus menerus bersolat, tiba tiba mereka mendengar tiupan angin yang mendayu dayu lalu terdengar suara yang kuat, seolah olah suara perempuan yang meraung kehilangan anaknya dan timbul perasaan takut menyelubungi mereka berdua, tambah lagi dengan kedinginan malam yang menggigilkan tubuh badan mereka. Mereka amat ketakutan, lalu mengambil keputusan untuk kembali ke bandar untuk menghilangkan rasa kesejukan dan ketakutan.

Setelah sampai di bandar, Harut berkata: sudahlah kembali balik!!! Tanya Marut apa yang kembali balik? Harut menjawab; rasa kelaparan yang menyakitkan perut ku. Kata Marut; Kita sudah jadi hamba kepada perut, celakalah perut ini yang tidak pernah kenyang! Harut; kita perlu mencari makanan. Marut; jika kita dapat makanan dan kenyang, adakah kita tak lapar lagi?Kita mesti bekerja untuk membeli makanan. Kerja apa yang kita boleh buat? Serah urusan kepada Allah, kita akan dapat kerja dan Insya Allah akan memberi rezeki harta cukup kepada kita.

Keadaan siang hari Babylon penuh dengan kemewahan, kesenangan dan kemaksiatan. Wanita wanita cantik dan jelita berada di mana mana, di malam pula pesta minum arak juga terdapat di merata tempat, alunan musik dapat didengar dari semua kedai dan kelab dan perkara keji dan jahat berleluasa.

Mereka terus berjalan di kota Babil untuk mencari kerja, dan terlihat orang ramai berduyun-duyun pergi ke istana yang besar dan mewah, Harut dan Marut mengikuti orang ramai pergi ke istana itu. Mereka pun masuk ke dalam istana dan sampai ke dewan yang penuh berbagai makanan dan buah buahan yang lazat. Di ujung meja hidangan duduk seorang lelaki dengan pakaian yang mewah dan indah, tetapi itu tidak mempesonakan Harut dan Marut, mereka lebih tertarik kepada hidangan makanan dan buah buahan yang lazat dan enak karena itu saja dapat menghilangkan kelaparan. Lalu tuan istana menyuruh mereka duduk dan makan, ketika mereka berdua sedang asik makan dengan penuh nikmat, tuan istana memperhatikan mereka berdua dan ia meminta khadamnya supaya menuang arak dan persilakan mereka minum arak lalu Harut dan Marut menolaknya dengan baik. Tuan Istana amat terkejut karena masih terdapat dikalangan penduduk Babylon yang tidak minum arak. Setelah itu barulah Harut dan Marut tahu bahawa lelaki itu adalah seorang raja yang sedang dikelilingi oleh menteri menteri dan pembesar pembesarnya.

Raja itu bertitah, semua menteri dan pembesar diam dan mendengar titah raja tersebut. Titah raja berkisar tentang pertikaian tanah antaranya dengan salah seorang pembesarnya. Raja menginginkan tanah tersebut dengan cara yang salah. Tidak seorang pun daripada hadirin yang berani mejatuhkan hukuman. Raja tidak peduli kepada menteri menterinya, lalu raja berpaling kepada Harut dan Marut dan bertitah; Aku ingin dengar dua orang tetamu ini yang menyelesaikan isu ini.

Semua perhatian menteri dan pembesar raja tertumpu ke arah Harut dan Marut, mereka semua menyangka bahawa Harut dan Marut menyebelahi raja. Tidak pernah terlintas pada pemikiran hadirin bahwa kedua dua tetamu adalah dari malaikat, malaikat hanya mengetahui keadilan. Harut dan Marut telah memutuskan hukuman berdasarkan keadilan dan mengembali hak kepada empunya. Mereka bukan sekadar menjatuhkan hukuman, bahkan mereka mengatakan raja yang bersalah dan zalim kerana merampas hak orang lain.

Semua menteri dan pembesar terdiam dan menanti keputusan raja; raja pun bertitah dengan suara yang lantang; beta melantik kamu berdua menjadi hakim di negeri Babylon. Para menteri dan pembesar bertepuk tangan kerana raja tidak murka dan menjatuhkan hukuman mati sebaliknya melantik mereka menjadi hakim. Begitulah akhirnya Harut dan Marut mendapat kerja di Babylon setelah mereka menyerah urusan kerja kepada Allah.

Harut dan Marut di beri rumah yang berdekatan dengan istana raja. Tidak ada lagi ketakutan, kelaparan, dahaga, dan tidak perlu meminta minta makanan dari orang lain. Mereka amat bersyukur kepada Allah SWT yang memberi kerja dan rezeki dengan menunaikan solat, bertabih memuji kebesaran Allah dan menyucikan. Tetapi ada sesuatu yang amat merisaukan, yaitu hati mereka tidak lagi pernah sekhusyuk dan sebersih seperti sebelum ini.

Inilah kehidupan manusia yang lemah, yang mereka hina ketika berada di alam malaikat. Kemudian datang tamu baru dalam kehidupan mereka, yang tidak pernah dirasai sebelumnya. Rasa letih, mengatuk dan berat mata sehingga tidak dapat buka. Harut segera membuka matanya dan berkata; mati!!! Wahai Marut! Kita akan matiii! Marut menyahut;Kenapa wahai sahabatku? Jawab Harut ; aku letiiih! mata rasa amat berat hingga tak mampu terbuka! Marut menjawab; aku pun rasa sama seperti kamu! Matiilah kita! Kata Harut lagi;aku rasa kita tak mati lagi…tapi benda lain..? mereka menguap aaah! Aaah! Aaah! Dan bercakap dengan suara terputus putus dan akhirnya langsung tidak dengar lagi suara. Tenanglah pernafasan mereka, tidurlah Harut dan Marut dengan nyenyak buat pertama kali, kerana sebelum ini mereka malaikat. Malaikat memang tidak tidur.

Bila Harut dan Marut terjaga dari tidur, matahari sudah terbit dan angin pagi bertiup sepoi sepoi bahasa bermulalah hari baru, dan itulah sinaran cahaya matahari pagi yang pertama mereka rasai. Harut dan Marut merasai betapa nikmat dan segarnya tidur dari keletihan. Uuh! Uuh!uuh! segarnya tidur!

Marut berkata; Wahai sahabatku! aku rasa seolah-olah baru diciptakan.

Dengan kesegaran itu Harut dan Marut dapat memulai kerja sejak awal pagi. Orang ramai mulai datang berjumpa Harut dan Marut, dan meminta penyelesaian masalah-masalah dan pertikaian yang berlaku diantara mereka. Harut dan Marut telah menyelesaikan masalah-masalah dan pertikaian dengan adil dan saksama. Orang pun puas hati dengan pengadilan Harut dan Marut. Nama mereka mulai dikenali dan semakin mendapat tempat dan akhirnya mereka menjadi hakim yang terkenal dan dihormati di seluruh Babil.

Setiap kali mereka selesai urusan dengan orang ramai, Harut dan Marut tidak lupa menunaikan solat, memuji kebesaran Allah dan menyucikan sentiasa bersyukur kepadaNya.Tidak menjadi halangan kepada Harut dan Marut, sekali kali raja menjemput mereka makan bersama tetapi dengan syarat tidak adan minuman arak.

Masa terus berlalu dengan pantas. Harut dan Marut terus menyelesaikan segala permasalahan orang ramai dengan adil dan saksama. Mereka tidak pernah walau pun sekali melanggar perintah Allah dalam menyelesaikan masalah-masalah orang ramai.

Suatu hari dalam kesibukan mereka menyelesaikan masalah orang ramai, tanpa diduga mereka didatang dengan masalah baru, masalah itu melibatkan seorang wanita. Apabila wanita duduk di depan Harut dan Marut, mata mereka berdua tertegun dengan wajahnya cantik, jelita dan senyum ceria… Lalu mereka teringat ha! ha! ha! Ya Zahrah. Jantung mereka berdegup degup dan darah panas mengalir keseluruh badan, mereka berdua berasa heran apa yang terjadi dalam hati mereka, rasa takut! rasa cinta! rasa benci ! berangan angan! Sungguh ajaib hati manusia. Aaah! Alangkah agungnya ciptaan Allah!

Manakala Zahrah sedang menceritakan masalah terjadi atasnya…Harut dan Marut sedang berada di awan awangan…berkhayal sambil asyik memandang Zahrah ..tanpa mendengar apa yang diceritakan oleh Zahrah…tiba tiba bisikan iman coba menghalangi mereka dari asyik memperhatikan Zahrah, mereka coba memalingkan pandangan ke arah lain.. tetapi tak mampu kerana ada tolakan syahawat yang lebih kuat untuk melihat Zahrah dengan nafsu, seolah olah bara api membara dalam hati mereka berdua. Sehingga mereka tidak sedar yang Zahrah telah sampaikan tentang masalahnya.

Wahai Tuan Hakim; itulah cerita masalah saya dan saya mengharapkan tuan hakim berdua dapat memberi keputusan dengan se adilnya. Harut dan Marut tersedar dari awan awangan, lalu Harut segera menjawab; wahai saudari ! masalah kamu memerlukan kajian, kamu datanglah besok. Marut mencelah; ya saudariku! Benar seperti yang dikatakan oleh Harut , besok saja kamu datang. Zahrah memperhatikan Harut dan Marut, lalu mereka berdua berdiri untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Zahrah. Setelah Zahrah pergi dan hilang dari pandangan, Harut dan Marut menyesal dengan tindakan mereka. Dengan penuh kesal Harut berkata; aaah! Kenapa aku tangguh keputusannya sehingga esok hari ! kenapa aku jadi begini! Wahai sahabatku! Aku takut..masuk neraka disebabkan oleh wanita ini!Cepat kita segera bertaubat kepada Allah SWT.

Keesokannya Zahrah segera pergi ke majlis Hakim, menunggu gilirannya untuk berjumpa dengan Hakim. Pada malam itu Harut dan Marut tidak dapat waktu istirahat yang cukup, tidur mereka berdua terganggu dengan masalah Zahrah…Mereka berazam apabila Zahrah datang, mereka tidak akan memandang wajahnya. Tiba giliran Zahrah, dengan senyuman yang manis Zahrah masuk berjumpa Harut dan Marut. Senyuman manis membuat Harut terlupa azamnya untuk tidak memandang wajah Zahrah. Begitu juga Marut terlupa taubat untuk mengulangi dosa yang sama, bila Zahrah masuk untuk mendapatkan keputusan masalahsnya. Setelah lama berbicara dengan Zahrah, tanpa disadari mereka pun menjatuhkan hukuman yang tidak adil kepada Zahrah. Selepas hukuman atasnya diputuskan , dia pun bangun dan bergegas keluar, mereka berdua serentak bertanya; saudari hendak ke mana? Zahrah menyahut ; saya hendak pergi menyembah matahari dekat berhala, marilah ikut saya. Harut dan Marut menjawab bersama; apa yang kamu hendak perbuat? Jawab Zahrah; kamu berdua bersembahyang dengan saya. Mereka jawab; kami sekali kali tidak menyembah selain dari Allah.

Tetapi Zahrah tak peduli dan terus pergi. Bila Zahrah telah hilang dari pandangan mereka, masing masing menyalahkan diri sendiri kenapalah mereka bersikap demikian dan teringat janji dan azam yang mereka untuk tidak mengulangi dosa yang serupa bila berjumpa dengan Zahrah. Lalu Harut berkata; wahai sahabatku! sesungguhnya rahmat Allah amat luas, segeralah kita bertaubat kepada Allah SWT.

Pada malam tersebut Harut dan Marut tertidur sehingga mereka bangun pagi tanpa solat, istighfar dan bertaubat kepada Allah. Bila Hari siang, mereka berdua pergi ke rumah Zahrah dan tidak pergi ke majlis Hakim. Setelah sampai di rumah Zahrah, mereka terus mengetuk pintu dengan senyuman manis dia membuka pintu dan membawa mereka masuk, dan dibawa duduk di ruang tamu. Zahrah terus ke dapur mengambil minuman untuk kedua dua tamunya. Zahrah menyediakan minuman arak dan menjemput Harut dan Marut minum. Harut dan Marut tidak minum arak yang dihidangkan Zahrah. Zahrah merajuk dan marah , bila melihat mereka tidak minum hidangannya. Harut dan Marut memujuk janganlah marah! Marilah kita berdamai. Saya boleh berdamai dan tak marah dengan syarat kamu berdua minum hidangan saya, oleh kerana tidak mau mengecilkan hati Zahrah mereka berdua pun minum arak.

Mereka pun mabuk, tiba tba ada seorang tetamu Zahrah datang , tetamu nampak Harut dan Marut di dalam rumah Zahrah, Harut dan Marut menjadi gelisah, terlintas dalam benak mereka berdua; Habis! Habis! Habislah! Kami jika tamu ini membuka rahsia kami.Tanpa disadari dan pengaruh arak , mereka berdua bangun mencekik tamu sehingga mati, kasihan! Apakah dosa tamu itu, melainkan dia nampak mereka berdua di rumah Zahrah.

Setelah habis kesan pengaruh arak, mereka pun sadar apa yang telah mereka lakukan dan rasa amat menyesal, amat sedih sehingga mereka berdua berusaha untuk terbang ke langit tetapi tidak mampu kerana dosa yang mereka lakukan terlalu besar dan berat. Kemudian Harut dan Marut terdengar seruan dari langit; kamu berdua boleh memilih. kailan di azab di dunia atau di akhirat! Harut dan Marut memilih azab di dunia, lalu mereka berdua terus diazab sehingga Hari Kiamat.

Rujukan :-
Cerita cerita dalam al Quran
Tafsir Ibnu Kathir
http://ustmuhammad.wordpress.com


Sunday, 20 March 2011

Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi; Malaikat Jibril Menjelma dalam Rupanya

’Awwaanah bin al-Hakam berkata, “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril ’alaihis salam datang dalam bentuk rupanya. Yakni Dihyah.”1

Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ’anhu adalah salah satu di antara para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang telah lama masuk Islam. Beliau masuk Islam sebelum perang Badar. Akan tetapi, dalam peperangan itu, beliau belum sempat mengikutinya. Baru, setelah peperangan itu, beliau tidak pernah absen dalam jihad di medan peperangan.2

Dia juga salah seorang sahabat Rasulullah yang masyhur. Dia dikaruniai Allah berupa keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Di antara keutamaan yang beliau miliki, yaitu Malaikat Jibril ’alaihis salam seringkali datang menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dalam wujud menyerupai dirinya. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Yahya bin Ya’mur rahimahullah dari Ibnu ’Umar,

Malaikat Jibril ’alaihis salam mendatangi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam rupa Dihyah Al-Kalbi.

Dalam hadits lain disebutkan, dari Jaabir radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa ’alaihis salam adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanuu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri– Dan aku pun melihat Jibril ’alaihis salam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah. (HR. Muslim).

Dari Abu ’Utsman, ia berkata,

“Telah diberitakan kepadaku bahwa Malaikat Jibril ’alaihis salam datang kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan Ummu Salamah sedang bersama beliau. Maka, dia pun berbicara lantas berdiri, sehingga Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun berkata kepada Ummu Salamah, ’Siapakah ini?’ – atau (kurang lebih) seperti (itu) ucapan beliau– Lantas Ummu Salamah pun berkata, ’Ini adalah Dihyah’. Ummu Salamah berkata,

’Demi Allah, sungguh aku mengira, ia adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa dia adalah Malaikat Jibril ’alaihissalam’3

Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengirimkan surat-surat seruan memeluk Islam kepada para raja, kisra dan kaisar, yaitu pada akhir tahun ke enam hijriah, Dihyah termasuk salah satu delegasi yang ditugaskan. Adapun tugas yang diberikan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Dihyah, yaitu agar ia menyampaikan surat beliau shallallahu ’alaihi wa sallam kepada Hiraklius, kaisar Romawi.

Dalam satu riwayat disebutkan, dari ’Abdullah bin ’Abbas radhiyallahu ’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menulis surat kepada kaisar untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau pun mengutus Dihyah al-Kalbi untuk menyampaikan suratnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memintanya supaya menyerahkan surat tersebut kepada penguasa Bushra, agar ia menyampaikannya kepada kaisar.4

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam al-Bidayah wan Nihayah, sepulang dari menemui kaisar -dan Dihyah mendapatkan hadiah yang banyak dari kaisar– ketika ia telah sampai di daerah Hisma, ia dihadang oleh sekelompok orang dan mereka pun mengambil semua yang ada padanya. Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah radhiyallahu ’anhu untuk memerangi mereka.5

Demikian, seklias kisah Dihyah bin Khaliifah. Pada masa hidupnya, beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus, dan beliau hidup hingga masa kekhalifahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Semoga keridhaan Allah Ta’ala senantiasa tercurahkan pada sahabat yang mulia ini.


Sumber:Jilbab onlinne

Tafsiran: Syekh Siti Jenar – tentang Musa Dan Khidir

“Sesungguhnya, Khidir AS bukanlah sosok lain yg terpisah sama sekali dari keberadaan manusia rohani. Apa yg disaksikan sebagai tanah menjorok dgn lautan di sebelah kanan dan kiri itu bukanlah suatu tempat yg berada di luar diri manusia. Tanah itulah yg disebut perbatasan (barzakh). Dua lautan itu adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na), perlambang alam tidak kasatmata (‘alam al-ghaib) dan lautan Jisim (bahr al-ajsam), perlambang alam kasatmata (‘alam asy-syahadat).”

“Sedangkan kawanan udang adalah perlambang para pencari Kebenaran yg sudah berenang di perbatasan alam kasatmata san alam tidak kasatmata. Kawanan udang perlambang para penempuh jalan rohani (salik) yg benar-benar bertujuan mencari Kebenaran. Sementara itu, kawanan udang yg berenang di lautan sebelah kiri, di antara batu-batu, merupakan perlambang para salik yg penuh diliputi hasrat-hasrat dan pamrih-pamrih duniawi.”

“Sesungguhnya, peristiwa yg dialami Nabi Musa AS dgn Khidir AS, sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an Al-Karim, bukanlah hanya peristiwa sejarah seorang manusia bertemu manusia lain. Ia adalah peristiwa perjalanan rohani yg berlangsung di dalam diri Nabi Musa AS sendiri. Sebagaimana yg telah saya jelaskan, yg disebut dua lautan di dalam Al-Qur’an tidak lain dan tidak bukan adalah Lautan Makna (bahr al-ma’na) dan Lautan Jisim (bahr al-ajsam). Kedua lautan itu dipisahkan oleh wilayah perbatasan atau sekat (barzakh).”

“Ikan dan lautan dalam kisah Qur’ani itu merupakan perlambang dunia kasatmata (‘alam asy-syahadat) yg berbeda dengan wilayah perbatasan yg berdampingan dgn dunia gaib (‘alam al-ghaib). Maksudnya, jika saat itu Nabi Musa AS melihat ikan dan kehidupan yg melingkupi ikan tersebut dari tempatnya berdiri, yaitu di wilayah perbatasan antara dua lautan, maka Nabi Musa AS akan melihat sang ikan berenang di dalalm alamnya, yaiu lautan. Jika saat itu Nabi Musa AS mencermati maka ia akan dapat menyaksikan bahwa sang ikan yg berenang itu dapat melihat segala sesuatu di dalam lautan, kecuali air (dilambangkan manusia juga sama). Maknanya, sang ikan hidup di dalam air dan sekaligus di dalam tubuh ikan ada air, tetapi ia tidak bisa melihat iar dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam air. Itulah sebabnya, ikan tidak dapat hidup tanpa air yg meliputi bagian luar dan bagian dalam tubuhnya. Di mana pun ikan berada, ia akan selalu diliputi air yg tak bisa dilihatnya.”

“Sementara itu, seandainya sang ikan di dalam lautan melihat Nabi Musa AS dari tempat hidupnya di dalam air lautan maka sang ikan akan berkata bahwa Musa AS di dalam dunia-yang diliputi udara kosong-dapat menyaksikan segala sesuatu, kecuali udara kosong yg meliputinya itu. Maknanya, Nabi Musa AS hidup di dalam liputan udara kosong yg ada di luar maupun di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak bisa melihat udara kosong dan tidak sadar jika dirinya hidup di dalam udara kosong. Itu sebabnya, Nabi Musa AS tidak dapat hidup tanpa udara kosong yg meliputi bagian luar dan dalam tubuhnya. Di mana pun Nabi Musa AS berada, ia akan selalu diliputi udara kosong yg tidak bisa dilihatnya.”

“Sesungguhnya, pemuda (al-fata) yg mendampingi Nabi Musa AS dan membawakan bekal makanan adalah perlambang dari terbukanya pintu alam tidak kasatmata. Sesungguhnya, dibalik keberadaan pemuda (al-fata) itu tersembunyi hakikat sang Pembuka (al-Fattah). Sebab, hijab gaib yg menyelubungi manusia dari Kebenaran sejati tidak akan bisa dibuka tanpa kehendak Dia, sang Pembuka (al-Fattah). Itu sebabnya, saat Nabi Musa AS bertemu dgn Khidir AS, pemuda (al-fata) itu disebut-sebut lagi karena ia sejatinya merupakan perlambang keterbukaan hijab ghaib.”

“Adapun bekal makanan yg berupa ikan adalah perlambang pahala perbuatan baik (al-‘amal ash-shalih) yg hanya berguna untuk bekal menuju ke Taman Surgawi (al-jannah). Namun, bagi pencari Kebenaran sejati, pahala perbuatan baik itu justru mempertebal gumpalan kabut penutup hati (ghain). Itu sebabnya, sang pemuda mengaku dibuat lupa oleh setan hingga ikan bekalnya masuk ke dalam lautan.”

“Andaikata saat itu Nabi Musa AS memerintahkan si pemuda untuk mencari bekal yg lain, apalagi sampai memburu bekal ikan yg telah masuk ke dalam laut, niscaya Nabi Musa AS dan si pemuda tentu akan masuk ke Lautan Jisim (bahr al-ajsam) kembali. Dan, jika itu terjadi maka setan berhasil memperdaya Nabi Musa AS.”

“Ternyata, Nabi Musa AS tidak peduli dgn bekal itu. Ia justru menyatakan bahwa tempat di mana ikan itu melompat ke lautan adalah tempat yg dicarinya sehingga tersingkaplah gumpalan kabut ghain dari kesadaran Nabi Musa AS. Saat itulah purnama rohani zawa’id berkilau dan Nabi Musa AS dapat melihat Khidir AS, hamba yg dilimpahi rahmat dan kasih sayang (rahmah al-khashshah) yg memancar dari citra ar-Rahman dan ar-Rahim dan Ilmu Ilahi (ilm ladunni) yg memancar dari Sang Pengetahuan (al-Alim).”

“Anugerah Ilahi dilimpahkan kepada Khidir AS karena dia merupakan hamba-NYA yg telah mereguk Air Kehidupan (ma’ al-hayat) yg memancar dari Sang Hidup (al-Hayy). Itu sebabnya, barang siapa di antara manusia yg berhasil bertemu Khidir AS di tengah wilayah perbatasan antara dua lautan, sesungguhnya manusia itu telah menyaksikan pengejawantahan Sang Hidup (al-Hayy), Sang Penyayang (ar-Rahim). Dan, sesungguhnya Khidir AS itu tidak lain dan idak bukan adalah ar-roh al-idhafi, cahaya hijau terang yg tersembunyi di dalam diri manusia, “Sang Penuntun” anak keturunan Adam AS ke jalan Kebenaran Sejati. Dialah penuntun dan penunjuk (mursyid) sejati ke jalan Kebenaran (al-Haqq). Dia sang mursyid adalah pengejawantahan yang Maha Menunjuki (as –Rasyid).”

“Demikianlah, saat sang salik melihat Khidir AS sesungguhnya ia telah menyaksikan ar-roh al-idhafi, mursyid sejati di dalam diri manusia sendiri. Saat ia menyaksikan kawanan udang di lautan sebelah kanan, sesungguhnya ia telah menyaksikan Lautan Makna (bahr-al-ma’na) yg merupakan hamparan permukaan Lautan Wujud (bahr al-wujud). Namun, jika terputus penglihatan batiin (bashirab) itu pada titik ini, berarti perjalanan menusia itu menuju ke Kebenaran Sejati masih akan berlanjut.”

Sesungguhnya, perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati penuh diliputi tanda kebesaran Ilahi yg hanya bisa diungkapkan dalam bahasa perlambang. Sesungguhnya, masing-masing menusia akan mengalami pengalaman rohani yg berbeda sesuai pemahamannya dalam menangkap kebenaran demi kebenaran. Yang jelas, pengalaman yg akan manusia alami tidak selalu mirip dgn pengalaman yg dialami Nabi Musa AS.”

“Setelah berada di wilayah perbatasan, Khidir AS dan Nabi Musa AS digambarkan melanjutkan perjalanan memasuki Lautan Makna, yaitu alam tidak kasatmata. Mereka kemudian digambarkan menumpang perahu. Sesungguhnya, perahu yg mereka gunakan untuk menyeberang itu adalah perlambang dari wahana (syari’ah) yg lazimnya digunakan oleh kalangan awam untuk mencari ikan, yakni perlambang perbuatan baik (al ‘amal ash-shalih). Padahal, perjalanan mengarungi Lautan Makna menuju Kebenaran Sejati adalah perjalanan yg sangat pribadi menuju Lautan Wujud. Itulah sebabnya, perahu (syari’ah) itu harus dilubangi agar air dari Lautan Makna masuk ke dalam perahu dan penumpang perahu mengenal hakikat air yg mengalir dari lubang tersebut.”

“Setelah penumpang perahu mengenal air yg mengalir dari lubang maka ia akan menjadi sadar bahwa lewat lubang itulah sesungguhnya ia akan bisa masuk ke dalam Lautan Makna yg merupakan permukaan Lautan Wujud. Andaikata perahu itu tidak dilubangi, dan kemudian perahu diteruskan berlayar, maka perahu itu tentu akan dirampas oleh Sang Maha Raja (malik al-Mulki) sehingga penumpangnya akan menjadi tawanan. Jika sudah demikian, maka untuk selamanya sang penumpang perahu tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju Dia, Yang Maha Ada (al-Wujud), yg bersemayam di segenap penjuru hamparan Lautan Wujud. Penumpang perahu itu mengalami nasib seperti penumpang perahu yg lain, yakni akan dijadikan hamba sahaya oleh Sang Maha Raja. Bahkan, jika Sang Maha Raja menyukai hamba sahaya-NYA itu maka ia akan diangkat sebagai penghuni Taman (jannah) indah yg merupakan pengejawantahan Yang Maha Indah (al Jamal).”

“Adapun Atas Pernyataan kenapa wahana (syariah) harus dilubangi dan tidak lagi digunakan dalam perjalanan menembus alam ghaib manuju Dia? Dapat dijelaskan sebagai berikut.”

“Sebab, wahana adalah kendaraan bagi manusia yg hidup di alam kasatmata untuk pedoman menuju ke Taman Surgawi. Sedangkan alam tidak kasatmata adalah alam yg tidak jelas batas-batasnya. Alam yg tidak bisa dinalar karena segala kekuatan akal manusia mengikat itu tidak bisa berijtihad untuk menetapkan hukum yg berlaku di alam gaib. Itu sebabnya, Khidir AS melarang Nabi Musa AS bertanya sesuatu dgn akalnya dalam perjalanan tersebut. Dan, apa yg disaksikan Nabi Musa AS terdapat perbuatan yg dilakukan Khidir AS benar-benar bertentangan dgn hukum suci (syari’at) dan akal sehat yg berlaku di dunia, yakni melubangi perahu tanpa alasan, membunuh seorang anak kecil tak bersalah dan menegakkan tembok runtuh tanpa upah.”

“Namun jika wahana (syari’ah) tidak lagi bisa dijadikan petunjuk, sebenarnya pedomannya tetaplah sama, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tetapi pemahamannya bukan dgn akal (‘aql) melainkan dgn dzauq, yaitu cita rasa rohani. Inilah yg disebut cara (thariqah). Di sini, sang salik selain harus berjuang keras juga harus pasrah kepada kehendak-NYA. Sebab, telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA). Itu sebabnya, di alam tidak kasatmata yg tidak jelas batas dan tanda-tandanya itu kita tidak dapat berbuat sesuatu kecuali pasrah seutuhnya dan mengharap limpahan rahmat dan hidayah-NYA.”

“Tentang makna di balik kisah Khidir AS membunuh seorang anak (ghulam) dapat saya jelaskan sebagai berikut.”

“Anak adalah perlambang keakuan kerdil yg kekanak-kanakan. Kedewasaan rohani seorang yg teguh imannya bisa runtuh akibat terseret cinta kepada keakuan kerdil yg kekanak-kanakan tersebut. Itu sebabnya, keakuan kerdil y kekanak-kanakan itu harus dibunuh agar kedewasaan rohani tidak terganggu.”

“Sesungguhnya, di dalam perjalanan rohani menuju Kebenaran Sejati selalu terjadi keadaan di mana keakuan kerdil yg kekank-kanakan (ghulam) dari salik cenderung mengikari kehambaan dirinya terhadap Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) sebagai akibat ia belum fana ke dalam Sang Rasul (fana fi rasul). Ghulam cenderung durhaka dan ingkar terhadap kehambaan kepada Sang Rasul. Jika keakuan yg kerdil dan kekanak-kanakan itu dibunuh maka akan lahir ghulam yg lebih baik dan lebih diberbakti yg melihat dengan mata batin bahwa dia sesungguhnya adalah “hamba” dari Sang Rasul, pengejawantahan Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad).”

“Sesungguhnya, keakuan kerdil yg kekanak-kanakan adalah perlambang dari keberadaan nafsu manusia yg cenderung durhaka dan ingkar terhadap Sumbernya. Sedangkan ghulam yg baik dan berbakti merupakan perlambang dari keberadaan roh manusia yg cenderung setia dan berbakti kepada Sumbernya. Dan sesungguhnya, perbuatan Khidir AS itu adalah perlambang yg sama saat Nabi Ibrahim AS akan menyembelih Nabi Ismail AS ‘Pembuhunan’ itu adalah perlambang puncak dari keimanan mereka yg beriman (mu’min).”

“Adapun dinding yg ditinggikan Khidir AS adalah perlambang Sekat Tertinggi (al barzakh al ‘a’la) yg disebut juga dgn Hijab Yang Maha Pemurah (hajib ar-Rahman). Dinding itu adalah pengejawantahan Yang Maha Luhur (al-Jalil). Lantaran itu, dinding tersebut dinamakan Dinding al-Jalal (al jidar al-Jalal), yg dibawahnya tersimpan Khazanah Perbendaharaan (Tahta al-Kanz) yg ingin diketahui.”

“Sedangkan dua anak yatim (ghulamaini yatimaini) pewaris dinding itu adalah perlambang jati diri Nabi Musa AS, yg keberadaannya terbentuk atas jasad ragwi (al-basyar) dan rohani (roh). Kegandaan jati diri manusia itu baru tersingkap jika seseorang sudah berada dalam keadaan tidak memiliki apa-apa (muflis), terkucil sendiri (mufrad) dan telah berada di dalam waktu tak berwaktu (ibn al-waqt). Dua anak yatim itu adalah perlambang gambaran Nabi Musa AS dan bayangannya di depan Cermin Memalukan (al-mir’ah al-haya’I).”

“Adapun gambaran tentang ‘ayah yg salih’ dari kedua anak yatim, yakni ayah yg mewariskan Khazanah Perbendaharaan , adalah perlambang diri dari Abu halih, Sang Pembuka Hikmah (al-hikmah al-futuhiyyah), yakni pengejawantahan Sang Pembuka. Dengan demikian apa yg telah dialami Nabi Musa AS dalam perjalanan bersama Khidir AS (QS. Al-Kahfi : 60-82) menurut penafsiran adalah perjalanan rohani Nabi Musa AS ke dalam dirinya sendiri yg penuh dgn perlambang (isyarat).”

“Memang Nabi Musa AS lahir hanya satu. Namun, keberadaan jati dirinya sesungguhnya adalah dua, yaitu pertama keberadaan sebagai al-basyar ‘anak’ Adam AS yg berasal dari anasir tanah yg tercipta; dan keberadaannya sebagai roh ‘anak’ Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad) yg berasal dari tiupan (nafakhtu) Cahaya di Atas Cahaya (Nurun ‘ala Nurin). Maksudnya, sebagai al-basyar, keberadaan jasad ragawi nabi Musa AS berasal dari Yang Mencipta (al-Kha-liq).”

“Sehingga tidak akan pernah terjadi perseteruan dalam memperebutkan Khazanah Perbendaharaan warisan ayahnya yg shalih. Sebab, saat keduanya berdiri berhadap-hadapan di depan Dinding al-jalal (al-jidar al-Jalal) dan mendapati dinding itu runtuh maka saat itu yg ada hanya satu anak yatim. Maksudnya, saat itu keberadaan al-basyar ‘anak’ Adam AS akan terserap ke dalam roh ‘anak’ Nur Muhammad. Saat itulah sang anak sadar bahwa ia sejatinya berasal dari Cahaya di Atas cahaya (Nurun ‘ala Nurin) yg merupakan pancaran dari Khazanah Perbendaharaan. Sesungguhnya, hal semacam itu tidak bisa diuraikan dgn kaidah-kaidah nalar manusia karena akan membawa kesesatan. Jadi, harus dijalani dan dialami sendiri sebagai sebuah pengalaman pribadi.”

Sumber: nurkasihnurhidayah

http://nurkasihnurhidayah.blogspot.com/2010/12/syeikh-siti-jenar-soal-jawab.html

KISAH MALAIKAT JIBRIL DAN MALAIKAT MIKAIL MENANGIS

Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahawa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, “Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah.”
Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.” Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S kerana bangga dan sombong.
Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap emapt, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, “Apakah yang membuat kamu menangis?” Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.”
Firman Allah bagi bermaksud, “Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku.”
Setelah diusir, maka iblis pun berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”

Lalu Allah berfirman yang bermaksud, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”
Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.” Allah berfirman yang maksudnya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Lalu Allah berfirman dengan maksud, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram.”

“Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.” (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : “Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan.”


Sumber : Worlpress

PENCIPTAAN MALAIKAT JIBRIL

Dikisahkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :



“Tatkala ALLAH SWT menciptakan malaikat Jibril AS, dipilihlah wujud yang paling rupawan ia dilengkapi dengan 600 sayap, masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur dengan penjuru paling barat. Begitu penciptaan selesai, berdirilah malaikat Jibril memandangi dirinya yang rupawan, seraya berkata :



“Ya ALLAH ya Tuhanku, adakah ENGKAU menciptakan makhluk yang lebih tampan dari pada diriku ?”

ALLAH menjawab : “ Tidak “



Mendengar jawaban ALLAH seperti itu perasaan Jibril berbunga-bunga dan sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam ia mengerjakan shalat 2 rakaat, yang setiap rakaatnya dilakukan selama 20.000 (duapuluh ribu tahun). Setelah selesai mengerjakan ALLAH SWT berfirman padanya :

“ Hai Jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah penyembahan kepadaKU denagn penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai Jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang AKU Sayangi, dia bernama Muhammad. Dia memiliki umat yang lemah yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunyapun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka demi kemulian dan keagunganKU, sungguh shalat mereka itu lebih AKU sukai dari pada shalatmu ! Mengapa ? Karena shalat mereka berdsasarkan perintahKU, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintahKU ! ”



Jibril : “Ya TUHANku lalu apakah balasan yang bakal ENGKAU berikan atas ibadah mereka ?”

ALLAH : “Balasan yang bakal AKU berikan adalah surga Ma’wa.”



Begitu mendengar kata-kata surga Ma’wa, Jibril memohon izin kepada ALLAH agar diperkenankan melihatnya maka ALLAHpun mengabulkan permohonan Jibril ini, sehingga dia segera berangkat menuju surga tersebut, dia bentangkan seluruh sayapnya lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh takterperikan. Setiap kali dia membuka sepasang sayapnya maka dia berasil jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu tahun perjalanan). Begitu juga setiap menutupkan sayap padahal ia terbang selama tiga ratus tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus buah. Namun sejauh itu ia belum berasih mencapa tujuan setelah merasa begitu letih diapun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada ALLAH SWT seraya mengadu : “ Ya ALLAH, apakah perjalanku terlah sampai separuhnya, ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya ? ” ALLAH SWT berfirman kepadanya : “ Hai jibril walau pun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan AKU tambah lagi enam ratus sayap, niscaya tidak kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akanKU berikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat !”.

Sumber : Multify